SECUIL CATATAN TENTANG KEGIATAN PERSAMI DAN LOMBA KETRAMPILAN PRAMUKA PENGGALANG


Bertempat di Camping Ground Villa Narwastu Pacet Mojokerto tanggal 27 – 28 Nopember 2010 telah dihelat Kegiatan Persami dan Lomba Ketrampilan Pramuka Penggalang. Jenis kegiatan yang serupa juga dilaksanakan di 33 Kwartir Daerah seluruh Indonesia sesuai dengan instruksi Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Bagaimana kiprah Kontingen Banyuwangi dalam kegiatan tersebut? Berikut catatan dari XP2 Scout Crew.

Jalan yang tak mudah

Mendirikan tenda

Tak ada satupun gelar kejuaraan yang diperoleh Kontingen Kwarcab Banyuwangi dalam kegiatan Perkemahan Sabtu Minggu dan Lomba Ketrampilan Pramuka yang diprakarsai oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka tersebut. Namun demikian keceriaan masih saja terlihat dimuka-muka yang terlihat lelah adik-adik gabungan dari Gudep Prabaswara dan Gudep Pangkalan SMPN 1 Glagah. Walau sedikit kecewa dalam hati mereka namun dapat mereka hapus dengan canda tawa mereka sepanjang perjalanan pulang menuju Banyuwangi. Yah … paling tidak mereka telah mendapatkan pengalaman berharga dari kegiatan yang mereka ikuti.

Memang kegiatan yang bertajuk Persami dan Lomba Ketrampilan Penggalang tersebut jauh dari apa yang mereka bayangkan. Walaupun namanya persami suasananya seperti LT. Mereka sadar betul sejak menginjak di Camping Ground Villa Narwastu, bahwa mereka tidak bakal mampu bersaing dengan para pesohor di dunia Lomba Kepramukaan. Memang kegiatan yang diikuti oleh 8 Kwarcab tersebut diantaranya adalah Kwarcab Malang yang notabene adalah juara LT IV beberapa waktu yang lalu. Belum lagi Kwarcab Tuban yang merupakan Juara Favorit Giat Prestasi Penggalang 2010. Namun para pembina mencoba meyakinkan adik-adik bahwa semuanya ini hanyalah sebuah permainan yang tidak perlu diresahkan. Ucapan kakak-kakak pembina itulah yang menyebabkan mereka tetap terus melangkah dengan keterbatasan yang mereka miliki.

Namun demikian tetap saja adik-adik tergetar dan minder juga ketika mereka mendengar suara teriakan yel-yel dari peserta Kwarcab lainnya. Dan hati mereka terasa gamang untung melangkah mengikuti lomba. Apalagi sederetan permasalahan segera saja datang, dimulai dari surat mandat kwarcab yang tertinggal, dan surat ijin berkemah yang terlupakan. Itulah yang menyebabkan mereka sedikit tertahan ketika akan mengambil SIM kemah. Walaupun akhirnya mereka diperbolehkan untuk mendirikan kemah, tidak urung nilai mereka untuk pendaftaran ulang dikosongkan alias nol. Itulah yang meruntuhkan moral kontingen di awal perlombaan.

Informasi yang tidak lengkap dan minimnya pengalaman kakak pembina menempatkan mereka dalam posisi yang sangat sulit dan dapat dipastikan sebenarnya sudah didiskualifikasi untuk lomba. Informasi yang diperolah dari Kwarcab tentang jenis perlombaan dan jadwal lomba ternyata tidak sama dengan yang mereka hadapi. Praktis sebagian dari mata lomba mereka ikuti dengan bonek alias bondo nekad tanpa persiapan sama sekali. Kakak pendamping juga boleh dikatakan tidak punya pengalaman untuk mendampingi perlombaan. Dan baru dong ketika mengikuti penjelasan pada sore hari pertama.

Materi peserta lomba sendiri memang tidak diseting untuk mengikuti lomba yang sebenarnya mirip sekali dengan LT IV itu. Mereka tidak pernah punya pengalaman mengikuti lomba semacam itu. Walau sebenarnya mereka bukan tidak menguasai materi lomba, semua materi telah mereka kuasai. Akan tetapi kecepatan mereka kurang. Hampir di semua mata lomba diselesaikan dengan sangat lambat sehingga tampak kurang cekatan. Sementara lawan-lawan mereka benar-benar terlatih dan disiapkan untuk mengikuti perlombaan, dan juga telah diseting untuk itu. Jadi disitu jelas terlihat perbedaan kasta yang luar biasa tajam. Anggota kontingen memang tidak diseleksi, peserta merupakan peserta didik yang mau mendanai keberangkatan mereka ke tempat lomba di Mojokerto. Itu disebabkan karena pihak Kwarcab Banyuwangi dan Gudep tidak punya dana untuk itu.

Pada akhirnya memang mereka gagal untuk mendapatkan juara. Namun kakak-kakak pembina pendamping baik yang resmi maupun tidak telah berhasil menenangkan hati mereka sepanjang pelaksanaan lomba. Walaupun tidak sepenuhnya menghapus rasa kecewa mereka. Akan tetapi mampu meyakinkan adik-adik bahwa mereka sama sekali tidak jadi pecundang karena tidak mendapatkan juara. Mereka telah cukup kompak dan ramah kepada semua penghuni perkemahan, meski itu tidak sedikitpun menolong mereka untuk menggapai kejuaraan. Kakak pembina selalu berkata, “Adik-adik tidak usah kecewa ataupun gentar. Ikutilah semua lomba dengan apa yang kalian kuasai dan telah dilatihkan dengan sepenuh hati. Kakak selalu mendukung kalian. Tetap semangat ya!” Dan itulah kira-kira kata-kata yang menyejukkan hati mereka dan membuat mereka tetap tertawa ceria sepanjang lomba.

Di akhir catatan ini penulis juga mengucapkan selamat kepada Kwarcab Malang, Kwarcab Tuban, Kwarcab Mojokerto, dan Kwarcab Trenggalek yang telah berhasil memperoleh juara dalam kegiatan ini. Kepada Kwarcab yang belum mendapatkan juara (Kwarcab Sidoarjo, Kwarcab Magetan, Kwarcab Surabaya, dan Kwarcab Banyuwangi), tetaplah semangat jangan berputus asa ini hanya permainan. Untuk semua tetap jalin persaudaraan dengan semua pramuka di Indonesia maupun dunia.

Secuil catatan cuil

Ada sedikit masalah yang menggelitik penulis sehubungan dengan hasil dari kegiatan ini. Dari 4 Gudep Model peserta Camporee 2010 yang mengikuti lomba, tak satupun dari mereka yang mampu menyabet juara. Sehingga beberapa Kakak sempat memplesetkan kata-kata Camporee dengan denga campur sari, campur ngawur, campur sembarang dan lain-lain. Benarkah seburuk itu citra Gudep Model dan Camporee di mata Kakak kita ini. Apakah keberhasilan pendidikan Kepramukaan selamanya harus diukur dengan kejuaraan dalam lomba? Apakah bila adik-adik hanya mampu menguasai ketrampilan kepramukaan saja itu tidak cukup? Apakah mereka harus menang dulu dalam lomba untuk dikatakan berhasil? Silahkan saja Kakak-Kakak pembaca untuk menjawabnya sendiri.

Penulis mencoba membolak-balik buku Aids to Scoutmastership karya Baden Powell yang telah diterjemahkan oleh Kwarnas Gerakan Pramuka. Namun tetap saja penulis tidak menemukan jawaban yang menyatakan kemenangan lomba adalah tolok ukur keberhasilan pendidikan kepramukaan. Bahkan Beliau menyatakan bahwa berbagai lomba dalam kepramukaan adalah untuk persahabatan dan bukan permusuhan. Si pemenang harus memberikan simpati kepada yang dikalahkan, dan yang kalah memberikan selamat kepada pemenang, suatu kebiasaan yang mulai hilang dari pramuka kita saat ini. Camporee dan Cycle Program mencoba mengembalikan kebiasaan tersebut, namun bukan berarti secara otomatis mencetak regu-regu yang siap tempur dan hebat dalam scout skill.

Penguasaan Ketrampilan Pramuka tentu tergantung dari faktor internal dan eksternal peserta didik yang seharusnya tidak begitu saja dikorelasikan dengan keberhasilan pendidikan kepramukaan secara keseluruhan. Terlalu naif kalau ada diantara kita yang memiliki pandangan seperti itu. Kalau kemenangan adalah tolok ukurnya, penulis kuatir akan menimbulkan sifat egois dan menghilangkan fairplay. Itu akan menghancurkan persahabatan yang seharusnya dijalin dalam sebuah persaudaraan pramuka dunia.

Itu adalah pendapat pribadi penulis untuk kebaikan pramuka Indonesia kedepan. Dan penulis juga mohon maaf jika ada pandangan yang mungkin berbeda di antara kita. Tapi mari kita jadikan perbedaan itu sebagai penghalang komunikasi kita. Dan kita harus saling menghargai satu dengan yang lain.

Catatan ini ditulis oleh Blaster Patria Prabaswara untuk Pramuka Indonesia.

 

About these ads

4 responses to “SECUIL CATATAN TENTANG KEGIATAN PERSAMI DAN LOMBA KETRAMPILAN PRAMUKA PENGGALANG

  1. Tolak ukur jika kita telah berhasil menjadikan Peserta didik kita menjadi Manusia yang sejati : Ta Ci Pa Pa Re Ra He Di Be Su itu. Kalah menang itu urusan belakangan

    Setuju Kak Arief, kadang memang kita lupa tentang arah dan tujuan pendidikan kepramukaan.

    XP2 Scout

  2. Salam Pramuka !!!
    aku nak malang yg juga ikut PK kmaren….
    salam aj de bwat smua yang ikut PK kmaren,,, makin success aj iiaa
    n tetep tanam jiwa pramuka,,,
    slam pramuka !!!

    Salam. Hai Agatha! Makasih sudah berkunjung! Selamat ya udah mendapat juara umum, kita salut sama Pramuka di Malang. Hebat banget, sepertinya kita harus banyak belajar dari teman-teman disini. Salam untuk semua adik-adik dan kakak-kakak disini. Sukses selalu.

    XP2 Scout

  3. Salam pramuka !!!!!!,bener-bener Salut ama kepramukaan nya ,SEREMMMMM. dah kompak, tanggap, wah pokok nya manteb deh, cool.

    dari :cibinong ,Bogor

    Salam pamuka

    Salam Kakak, sip lah pokoknya. Terimakasih atas kunjungannya.

    XP2 Scout

  4. Assalamu’alaikum,semoga kakak senantiasa sehat wal afiat yah,wah sayang sekali saat itu kami tidak bisa ikut serta pada kegiatan ini karena bersamaan dengan Diklat Scout Smetarigala,tetap semangat kakak,majulah Pramuka Indonesia !

    Wah padahal kita berharap bisa ketemu sama scout Smetarigala … tapi insyaallah dilain waktu ya Kak Sis. Salam untuk semua adik-adik dan Kakak Pembina.

    XP2 Scout

  5. apa ada yang salah dengan pramuka……??????
    kalo bosan mikir ya didaur ulang lagi gugus depan model…….
    tapi kontingen trenggalek yang juga gugus depan model masih siap tempur…………
    tak tunggu di even2 berikutnya

    Pramuka nya ga ada yang salah Kak. Ya sebenarnya ini hanya masalah perbedaan pendapat. Salut untuk kontingen Trenggalek, selamat ya! Tapi kalau boleh direvisi dikit, kita nich tidak lagi bertempur khan? Lebih enak bagaimana kalau lomba digunakan sebagai perekat persahabatan dan bukan pertempuran. Wih … serem itu. Terimakasih kunjungannya Kak Khoirul Anam, tetap jaga Pramuka kita tetap damaikan hati dan dunia …

    XP2 Scout

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s