PEMIMPIN PEREMPUAN


Hiruk pikuk pesta demokrasi di negeri ini telah menyita perhatian publik akhir-akhir ini. Pemilihan calon legislatif telah dilakukan dan pada bulan Juli nanti akan dilanjutkan dengan pemilihan presiden. Beberapa tokoh nasional mulai tampil ke depan untuk mencalonkan diri menjadi calon presiden (Capres) atau calon wakil presiden (Cawapres). Munculah beberapa nama calon pemimpin yang diantaranya ada perempuan.

Katini dan Pemimpin Perempuan
Munculnya seorang pemimpin perempuan telah menjadi perdebatan selama berabad-abad. Dari waktu ke waktu perdebatan itu masih tetap saja ada, bahkan untuk saat ini. Di sisi lain fenomena pemimpin perempuan semakin merebak di negeri ini. Lihat saja betapa banyak perempuan di negeri ini yang mencoba menjadi anggota legislatif pada pemilu beberapa waktu yang lalu. Wajah-wajah cantik mereka menghiasi tepi-tepi jalanan dan beberapa tempat strategis selama masa kampanye. Itu kita pahami karena setiap parpol paling tidak memberi kuota 20% caleg yang diusulkan adalah perempuan.

pramuka1

Perempuan adalah aset bangsa (sumber: http://smacepiring.wordpress.com)

Sebenarnya apa yang diraih perempuan Indonesia saat ini diakui atau tidak adalah hasil perjuangan pendekar emansipasi wanita R.A. Kartini hampir dua abad yang silam. R.A. Kartini adalah putri seorang Bupati Jepara R.M. Adipati Sosroningrat lahir di desa Mayong pada tanggal 21 April 1879. Tanggal lahir beliau itulah yang kemudian kita peringati sebagai hari Kartini. Menurut Kartini agar perempuan dapat memiliki derajat maka dia harus memperoleh pendidikan yang sejajar dengan kaum laki-laki. Dan gagasan itu betul-betul diwujudkan dengan mendirikan sekolah untuk perempuan. Tindakan yang betul-betul brilian dan sangat berani mengingat beliau hidup di jaman dimana perempuan dianggap tidak layak untuk mendapatkannya.

Saat ini kita dapat melihat bahwa pendidikan benar-benar mengangkat derajat perempuan sejajar dengan kaum laki-laki. Cita-cita Kartini seperti yang termuat dalam surat-suratnya (yang kemudian diterbitkan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”) benar-benar menjadi kenyataan. Hanya sayang dari waktu ke waktu jasa R.A. Kartini semakin terlupakan. Coba lihat, peringatan hari Kartini saat ini tertutup oleh kesibukan persiapan pilpres. Kartini telah dilupakan, bahkan oleh kaum perempuan itu sendiri. Setidaknya itulah yang penulis rasakan, semoga apa yang dirasakan penulis ini salah.

Kontroversi Pemimpin Perempuan
Seperti telah disampaikan di atas bahwa pendidikan adalah gerbang emas yang mengantarkan kaum perempuan untuk mencapai cita-citanya termasuk menjadi seorang pemimpin perempuan. Walau sudah tidak segencar pada pemilu 2004, keberadaan seorang pemimpin perempuan masih menjadi perdebatan yang cukup hangat. Ada sebagian masyarakat kita yang masih tidak setuju untuk dipimpin seorang pemimpin perempuan, dan sebagian yang lain justru mendukung seorang pemimpin perempuan.

Fenomena pemimpin perempuan di negeri ini sebenarnya bukan barang baru, tengok saja pada pilkada. Pilkada di beberapa daerah diikuti oleh calon pemimpin perempuan, ada yang gagal tapi ada juga beberapa diantaranya benar-benar terpilih menjadi pemimpin. Yang gagal tetapi mendapatkan suara yang cukup signifikan adalah calon gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawangsa yang berpasangan dengan Mujiono (Kaji). Walau kalah dari pasangan Sukarwo dan Saifullah Yusuf (Karsa) tetapi dengan selisih suara yang sangat tipis. Di kabupaten Banyuwangi bahkan bupati saat, Ratna Ani Lestari yang notabene kurang dikenal pada saat itu mampu mengalahkan pasangan lain yang lebih populer di kalangan masyarakat Banyuwangi.

Lepas dari semua kontroversi yang ada, keberadaan pemimpin perempuan harus kita akui. Hanya saja tugas kita sebagai warga negara adalah mematuhi semua aturan yang telah ditetapkan oleh pemimpin bangsa ini termasuk pemimpin perempuan. Tapi kita juga bebas untuk melakukan koreksi terhadap kinerja mereka. Bila mereka memimpin dengan baik dan berpihak kepada rakyat, maka kita harus tetap mendukungnya. Tetapi sebaliknya jika kepemimpinan mereka merugikan rakyat ya marilah kita ganti dengan pemimpin yang lain, dan dihukum sesuai dengan kadar dan kesalahan yang dilakukan.

Dan sebagai penutup dari tulisan ini, penulis hanya berharap kepada semua pemimpin perempuan untuk selalu mengingat kodratnya sebagai pendidik anak dan ibu rumah tangga. Walaupun banyak tugas yang diemban sebagai pemimpin, rumah tangga harus selalu menjadi nomor satu. Karena di rumah tanggalah pemimpin-pemimpin sejati itu dilahirkan. Dan peran ibu begitu besar dalam membentuk watak dan pribadi anak-anaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s