BANGSAKU “HEBAT” DALAM BERLALU LINTAS


Suatu ketika saya pernah mencoba memperhatikan bagaimana tingkah laku berlalu lintas orang-orang di jalanan. Dari pengamatan yang saya lakukan, ternyata ada sesuatu “kehebatan” yang saya temukan. Apa itu yang hebat? Dalam uraian berikut saya mencoba mengungkapkan temuan saya itu.

bang-jo-abang-ijoPernahkah Anda mencoba mengamati perilaku berlalu lintas orang-orang di sekitar kita? Jika Anda pernah melakukan itu, mungkin Anda sepakat dengan saya bahwa ada sesuatu yang luar biasa yang menjadi ciri dari perilaku masyarakat di Indonesia pada umumnya, dapat kita ungkapkan dalam satu kata yaitu “hebat”. Hebat, yang dapat kita temukan adalah kehebatan dalam arti yang menyedihkan. Kehebatan dalam batas kecepatan, pelanggaran traffic light, rambu-rambu lalu lintas, bahkan dalam sopan santun berlalu lintas.

100_0965

Salah satu contoh pelanggaran yang sering terjadi.

Tahukah Anda, berapa batas kecepatan yang diperbolehkan dalam menggunakan kendaraan di jalanan umum? Di dalam kota menurut Pak Polisi Lalu Lintas, seperti dijelaskan pada saat mencari SIM adalah 40 km/jam, dan di luar kota bisa mencapai 60 km/jam atau lebih. Tapi berapakah kecepatan sebuah kendaraan di jalanan kota yang pernah saya tahu? Fantastis, lebih besar atau sama dengan 60 km/jam. Bahkan saat kendaraan melintas di tempat keramaian di tengah kota. Bisa kita bayangkan alangkah berbahayanya bagi para pengguna jalan lainnya. Apalagi kalau kendaraan melaju di luar kota, kecepatannya bisa menjadi sangat tinggi. Ukuran kecepatan bagi para pengendara seperti itu adalah keberanian, seberapa besar nyali pengendara memacu kendaraan mereka itu batas kecepatannya.

Kendaraan sepeda motor dengan tobos (keranjang bonceng red), malah lupa kalau keranjangnya menjadikan sepeda motornya lebih lebar selebar mobil. Pengendaranya melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi seolah-olah ukurannya kecil. Wah sangat mengerikan sekali hebatnya bukan? Apalagi di atas keranjang tadi juga ada penumpang yang duduk tanpa menggunakan helm, tambah hebat lagi bukan? Okelah, itu kan untuk keperluan praktis saja. Kalau menurut pendapat saya menjaga keselamatan nyawa manusia lebih hebat ketimbang keperluan praktis tersebut.

Pemandangan di traffic light (lampu lalu lintas) lebih hebat lagi, mulai dari gepeng-gepeng yang berkeliaran tanpa peduli keselamatannya sampai dengan para penerobos traffic light layaknya Valentino Rossi lagi start. Keadaan seperti itu terjadi hampir setiap saat, agak berkurang jika ada Polantas yang menjaga di sekitar traffic light. Begitu Polantas berlalu maka pelanggaran pun akan dimulai lagi. Yah, itulah kebudayaan “luhur” bangsa kita yang harusnya segera kita musnahkan.

img14032009103161

Butuh pendidikan tentang berlalu lintas untuk peserta didik kita.

Lalu bagaimana dengan rambu-rambu lalu lintas? Dulu saya telah belajar banyak tentang  rambu-rambu ini di SD dan dalam kegiatan kepramukaan. Saya bahkan pernah membuat maket jalur lalu lintas dengan menambah gambar rambu-rambu dari kotak korek api yang waktu itu bergambar rambu-rambu lalu lintas. Sekarang saya juga melihat di beberapa Sekolah Dasar dindingnya digambari dengan gambar rambu-rambu lalu lintas. Menurut saya itu bagus sebagai pembelajaran berlalu lintas di sekolah. Hanya saja ketika saya bertanya pada anak-anak muda yang notabene telah memegang SIM C tentang beberapa gambar rambu-rambu lalu lintas, ternyata rata-rata tidak memahami tanda-tanda rambu lalu lintas tersebut. Fakta yang lebih menyedihkan, sekarang banyak sekali anak-anak yang berkendara dengan sepeda motor di jalanan yang tidak ber-SIM dan tidak paham tentang rambu lalu lintas. Alangkah hebatnya bangsa ini..!!

Masih banyak lagi “kehebatan” masyarakat Indonesia dalam berlalu-lintas, tapi saya akan coba kemukakan tentang sopan santun berlalu-lintas di negeri ini. Guru saya dulu pernah menyampaikan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang santun, dan Beliau berani memastikan bahwa bangsa ini lebih santun dari bangsa barat. Saya tentu sangat bangga mendengarkan penjelasan guru saya tersebut. Tapi fakta yang ada di jalanan sekarang ini membuat hati saya menjadi patah. Mana kesantunan bangsa ini berlalu lintas?

Tengok saja, pernahkah Anda kesulitan menyeberang jalan padahal Anda telah memberi tanda untuk menyeberang? Adakah orang yang peduli dan memberi kesempatan Anda untuk menyeberang, mungkin memang ada. Tapi yang saya rasakan kesempatan seperti itu mungkin sekali dari seribu kali menyeberang. Yang ada malah kita akan di-klakson sampai jantung kita mau copot, bukan memperlambat laju kendaraan mereka sebaliknya malah dipacu. Seolah jalan ini memang tercipta untuk mereka saja, manusia lain dilarang menyeberang sebelum mereka berlalu.

Kebiasaan menggunakan tanda klakson yang tidak perlu juga sering kita temui. Di perempatan yang ada traffic light-nya, bunyi klakson akan segera terdengar kompak ketika lampu berganti dari lampu merah menjadi hijau. Seolah-olah ada magnet yang menarik jari untuk menekan tombol klakson begitu lampu berubah hijau.

Okelah itulah fakta-fakta yang saya temukan pada saat saya memperhatikan jalanan. Harapan saya semoga apa yang terjadi di jalanan seperti itu dapat berangsur-angsur berkurang dan hilang ditelan jaman. Bagaimana caranya, yah itulah yang sekarang harus kita pikirkan. Pendidikan kepramukaan terutama dalan pendidikan berlalu lintas mungkin menjadi salah satu alternatifnya.

Blaster

3 responses to “BANGSAKU “HEBAT” DALAM BERLALU LINTAS

  1. Apalagi pengendara motor ! Minta ampuuuun bandelnya..Naik trotoar dah gitu meng-klason orang yang di jalurnya..Belum lagi hobby melawan arah . Parahnya tidak ada yang sabar, di lampu merah 4 jalur bisa-bisanya melintas sblm waktunya dengan memanfaatkan waktu 5 detik!! dari jalur yang terkena merah..Emang hebattt!!! Berduka cita sekali melihatnya..

    Gimana enggak , ujian mau dapatin SIM aja (pengalaman pribadi niy ) di POLDA teorinya yg harusnya peraturan dan makna rambu ga sempat dibaca , isinya pilihan abcd dan jawabannya harus melihat acungan jari penguji : telunjuk artinya : a, jari tengah : b dst!

    Apalgi anak-anak hari gini , ga pake SIM sudah bisa ke sekolah atau tamasya dengan kendaraan masing-masing

    Makin parahlah berkendara bangsa kita tercinta!!!

    Yah … Itulah keadaan negeri kita tercinta saat ini. Sangat memprihatinkan😦 .

    XP2 Scout

  2. Sikap kebanyakan dari kita ketika di jalan raya adalah sekedar kepatuhan kepada polisi. Belum tumbuh kesadaran tentang kedisiplinan di jalan raya merupakan kebutuhan atas keselamatan diri sendiri dan perwujudan penghormatan atas hak-hak orang lain.

    Benar Kak Alam … Dan sekarang pelanggaran sudah mencapai tingkat yang menakutkan.😦

    XP2 Scout

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s