SIKLUS PROGRAM, METODE PEMBELAJARAN INDIVIDU DAN SOSIAL MELALUI PRAMUKA


Salah satu perbedaan Pendidikan Kepramukaan dibanding dengan pendidikan non formal lain adalah dalam penyelenggaraan pendidikan Pramuka bersandar pada empat pilar pendidikan yaitu: belajar mengetahui, belajar berbuat, belajar hidup bersama dan belajar menjadi seseorang. Untuk itu dalam setia kegiatan kepramukaan selalu diarahkan ke dalam empat pilar tersebut. Ada satu model program pembelajaran yang sedang dikembangkan oleh WOSM yang dikenal dengan Program Cycle (Siklus Program). Walupun banyak kendala yang dihadapi saat menerapkan program ini, namun menurut penulis model Siklus Program ini cukup baik untuk mengembangkan ke empat pilar pendidikan tersebut dalam Pendidikan Kepramukaan.

Siklus Program merupakan suatu periode dimana kegiatan itu dipersiapkan, diselenggarakan, dan dievaluasi dalam serangkaian fase, cara pembina menerapkan Metode Kepramukaan dianalisa, dan perkembangan pribadi anggota muda diamati dan dikenali. Selain sebagai cara untuk mengorganisasikan semua kegiatan Pasukan, siklus program juga merupakan alat bantu pendidikan dlam penerapan prinsip dasar dan metode kepramukaan. Melalui suatu siklus program inilah anggota muda:

  1. Belajar mengungkapkan gagasan dan pendapatnya serta mengambil putusan sesuai dengan pemikirannya.
  2. Melalui proses mekanisme partisipasi, menyampaikan pendapatnya dan mendidik mereka menghargai serta menghormati pendapat orang lain.
  3. Belajar untuk mengembangkan, menyajikan, dan mempertahankan suatu proposal.
  4. Menambah kemampuan mengorganisasi dan mengembangkan ketrampilan bernegosiasi.
Foto001

Belajar berdemokrasi dalam menentukan program!

Siklus program memiliki fase-fase yang di awalnya (tiga minggu pertama) berupa kegiatan mengkoordinasikan perbedaan pendapat dalam waktu dan situasi secara tepat, member kesempatan kepada anggota muda berpartisipasi dan mempraktekkan kehidupan demokratis. Jadi yang akan berbeda dalam siklus program seluruh kegiatan pramuka dirancang dan dilaksanakan oleh anggota muda dengan bimbingan anggota dewasa.

Dalam sistem ini peranan regu dan pasukan menjadi begitu dominan, sehingga tercipta suatu iklim demokratis dalam setiap kegiatan. Keadaan seperti itu seperti harapan dari Baden-Powell, Ia berkata, “Sistem beregu membantu para Pramuka untuk mengerti bahwa mereka mempunyai tanggung jawab terhadap apa yang dilakukan oleh Pasukan mereka. Sistem inilah yang membuat Pasukan Pramuka dan Pramuka secara umum, bekerjasama dengan baik” (Aids to Scoutmastership, 1919).

Siklus program memiliki empat fase, seperti telah disebutkan di atas tiga fase awal merupakan fase perencanaan dan fase ke empat merupakan pelaksanaan. Waktu dalam satu siklus tergantung dari tingkatan usia, untuk peserta didik Tingkat Siaga biasanya satu siklus lamanya satu bulan (4 minggu), untuk Tingkat Penggalang 4 bulan, dan untuk Tingkat Penegak Pandega 6 bulan. Secara umum fase-fase dalam siklus program meliputi:

  1. Kesimpulan penilaian pribadi, analisa Pasukan, dan penyiapan proposal-proposal kegiatan
  2. Mengusulkan memilih kegiatan
  3. Mengorganisasi, merancang dan menyiapkan kegiatan-kegiatan
  4. Melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan serta memantau kemajuan pribadi

Fase-fase tersebut terus berputar, sehingga untuk Tingkat Siaga dalam satu tahun mengalami 12 kali siklus, untuk Penggalang 3 kali siklus, dan Penegak Pandega 2 kali siklus.

Foto007

Dinamika regu menjadi inti dari gerakan pramuka secara umum!

Bagaimana penerapan di lapangan? Memang tidak mudah menerapkan siklus program dalam kegiatan di lapangan. Kendala akan sangat terasa jika jumlah peserta didik yang banyak misal sampai 5 pasukan dalam satu gudep dan jumlah pembina yang terbatas. Karena tuntutan untuk pemantauan kemajuan individu peserta didik menjadi kurang efektif. Namun bukan berarti kita harus menyerah, penulis kira kita bisa mencoba beberapa eksperimen untuk memecahkan masalah tersebut. Mengapa kita harus mencoba? Karena penulis sendiri merasakan walaupun tidak sempurna dalam menjalankan siklus program, namun penulis melihat telah terjadi peningkatan kemampuan peserta didik dalam aktulisasi diri dan kolaborasi antar mereka. Itu adalah kemajuan yang penulis rasakan dibanding dengan cara-cara pembelajaran sebelumnya.

Akhirnya di akhir tulisan ini penulis sangat berharap dan terbuka untuk mendiskusikan masalah siklus program ini dengan Kakak-Kakak Pembina yang ada dimana saja. Mungkin dengan bertukar pendapat kita akan mendapatkan suatu metode yang pas dengan peserta didik yang kita hadapi di gudep masing-masing. Mengingat siklus program ini dikembangkan oleh Interamerican Scout yang kemudian diadopsi oleh WOSM maka penyesuaian tentu sangat dibutuhkan.

Sumber: Buku Pegangan untuk Pembina Penggalang yang diterjemahkan oleh Kwartir Nasional dari buku yang berjudul Handbook For Leaders Of The Scout Section (Copyright World Scout Bureu, 2002)

One response to “SIKLUS PROGRAM, METODE PEMBELAJARAN INDIVIDU DAN SOSIAL MELALUI PRAMUKA

  1. assalamualaikum, trims atas artikelnya, koment blog ku ya

    Waalaikum salam, terimakasih juga kunjungannya. Wokey … blog Kakak akan kami kunjungi.

    XP2 Scout

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s