BADAI KETSANA DAMPAK DARI GLOBAL WARMING


Hari Senin tanggal 27 September 2009 kemarin kita dikejutkan oleh berita banjir besar yang menyapu ibu kota Philipina, Manila. Puluhan orang dikabarkan tewas dan ribuan orang mengungsi karena ketinggian air mencapai 6 meter menenggelamkan rumah-rumah penduduk Manila. Dan sampai saat ini jumlah korban masih terus bertambah. Informasi yang sepotong-sepotong itu dapat kita maklumi karena komunikasi di Manila lumpuh total. Pemerintah Philipina mengerahkan tentara dan helikopter untuk mengevakuasi penduduk yang bertahan diatas atap-atap rumah. Dari informasi yang beredar diperkirakan 80 persen kota tenggelam oleh banjir besar tersebut.

manila

Penduduk manila melintasi banjir (sumber:AFP)

Banjir besar tersebut disebabkan oleh turunnya hujan lebat selama kurang lebih 12 jam tanpa henti. Diperkirakan curah hujan dalam 12 jam tersebut sama dengan curah hujan normal selama satu bulan lebih. Itulah yang menyebabkan semua saluran air di ibu kota Filipina tersebut tidak mampu menampung luapan air yang begitu besar volumenya. Diberitakan dua tanggul di dekat kota Manila jebol dan menumpahkan beribu-ribu kubik air menerjang apa saja yang dilaluinya. Sekilas mirip dengan banjir besar pada jaman Nabi Nuh menurut kepercayaan muslim. Mengapa curah hujan tidak normal bisa terjadi? Menurut para ahli cuaca dan iklim penyebabnya adalah hantaman badai tropis Ketsana di wilayah utara Filipina. Badai yang terbentuk di tenggara Palau tanggal 23 September 2009 inilah yang menghantam Pulau Luzon dimana ibu kota Philipina Manila berada.

536px-Ketsana_2009_September_25

Badai Ketsana melintas di atas Philipina tanggal 25 September 2009. (sumber:NASA)

Pemanasan Global (Global Warming) sebagai akibat dari efek rumah kaca (Green House Efect) saat ini nyata menjadi ancaman bagi umat manusia. Berubahnya pola cuaca dan iklim memberikan dampak buruk bagi kehidupan. Perubahan cuaca yang ekstrim seringkali terjadi yang menyebabkan rusaknya tanaman pertanian. Rob (meluapnya air laut) membanjiri pemukiman di beberapa kota di tanah air. Dan satu lagi timbulnya badai dahsyat seperti Badai Ketsana yang melanda Philipina Utara. Badai dengan kecepatan 85 km/jam tersebut selain merusak secara langsung juga dapat meningkatkan curah hujan secara ekstrim. Suatu bencana yang dahsyat yang sewaktu-waktu bisa juga melanda tanah air kita Indonesia. Berdasarkan perkiraan cuaca, badai tropis Ketsana akan menjauh dari Filipina dan melintasi daerah pantai Pulau Hainan, China, selama sehari dari 29 September siang hingga 30 siang hari. Namun, badai ini juga bisa berubah arah mendekati pesisir Vietnam dengan melintasi pantai bagian selatan Pulau Hainan.

Pendidikan Pramuka dalam menekan pemanasan global.

Dalam pendidikan kepramukaan mengajarkan pada peserta didik tentang kecintaan terhadap alam dan lingkungan. Mencintai alam berarti harus menjaga alam ini kerusakan, mulai dari hal yang kecil. Mencintai bumi adalah dengan tidak mencemarinya dengan sampah. Mengajari peserta didik dalam mengelola sampah adalah hal kecil yang sangat besar artinya bagi bumi yang kita cintai.

Dari yang kecil itu bisa dikembangkan dengan aksi penanaman pohon untuk mengurangi gas rumah kaca (CO2). Dan memelihara tanaman itu dengan sebaik-baiknya. Itulah mungkin yang minimal yang ditanamkan oleh pembina untuk menekan pemanasan global penyebab perubahan pola cuaca dan iklim yang sangat membahayakan umat manusia. Kita harus yakin itu pasti sangat berarti.

Doa untuk seorang sahabat

Saya punya seorang sahabat yang bertempat tinggal di Manila Philipina, namanya Jeny Cestona. Perkenalan kami singkat, perkenalan melalui dunia maya situs jaringan sosial Friendster sekitar satu bulan yang lalu. Kami sering sekali berkomunikasi, saling memberikan komentar. Ia seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Manila, sedang orang tuanya ada di Amerika Serikat. Seorang sahabat yang enak sekali diajak berkomunikasi, bertukar pikiran dan informasi tentang keluarga dan budaya.

Sehari sebelum bencana itu terjadi kami masih saling berkomunikasi, ia menceritakan tentang ayahnya yang begitu menyayangi dia dan dia berusaha untuk membahagiakan keluarganya dengan belajar giat menyelesaikan studinya. Ketika saya dengar adanya banjir besar melanda Manila saya hanya terpikir bagaimana nasib sahabat saya tersebut. Saya tidak dapat menghubungi dia lagi karena sistem komunikasi di Manila lumpuh total. Sampai saat ini pun saya tetap tidak tahu bagaimana kabar berita tentang dia.

Semoga Allah SWT memberi keselamatan, kesehatan kepada dia. Dan juga kesehatan dan ketabahan kepada sebagian besar penduduk Philipina Utara yang selamat, karena mereka juga saudara kita. Amin.

6 responses to “BADAI KETSANA DAMPAK DARI GLOBAL WARMING

  1. Rupanya bencana tidak hanya dialami negeri ini, atau kah Tuhan memang sengaja memberi peringatan?

    Yah begitulah, mungkin kita terlalu banyak dosa …😦

    XP2 Scout

  2. Semoga Para Korban Bencana diberikan kesabaran Yang luar biasa dan Juga semoga selalu dalam Perlindungan ALLAH SWT
    Amiii.,.,.,.,.,.,.

    Amin ya rabbal alamin …

    XP2 Scout

  3. Semoga para korban tetap tabah ya mas. Semua ini cobaan dari Tuhan, termasuk gempa2 yang ada di Indonesia.
    Salam hangat dari Surabaya.

    Ya, semoga bencana ini tidak berkelanjutan, dan segera berhenti. Paling tidak rehat lah…!

    XP2 Scout

  4. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Pemanasan global meyebabkan perubahan iklim yang membuat musim menjadi kacau. Semoga yang tertimpa musibah diberikan ketabahan.

    Hehe😆 silakan Kak …

    XP2 Scout

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s