WARISAN YANG TERBENGKALAI


Ketika ada klaim budaya dari negeri tetangga kita, saya sangat marah dan sedih. Sehingga saya sempat menuliskan artikel yang isinya mengecam segala tindakan tersebut. Sangat wajar, siapapun akan marah jika sesuatu yang dimilikinya tiba-tiba diakui sebagai milik orang lain. Tapi setelah dipikir-pikir lebih dalam, bangsa kita sendiri juga turut bersalah atas semua itu. Sudahkah kita mengenali kebudayaan kita sendiri?

wayang-kulit24Tergelitik oleh pertanyaan di atas, saya mencoba melakukan investigasi kecil-kecilan pada beberapa anak di sekitar saya. Pertanyaan yang saya ajukan sederhana saja yaitu seputar pengetahuan mereka tentang beberapa budaya Indonesia yang sempat diributkan karena diklaim oleh negara tetangga. Hasilnya, wow sangat mengejutkan. Sebagian besar dari mereka malah tidak banyak mengenal budaya tersebut, sebagian lagi tahu budaya tersebut setelah diberitakan oleh media akhir-akhir ini. Dan hanya sedikit sekali mereka yang benar-benar mengenal budaya Indonesia tersebut, itupun dengan kuantitas yang minim sekali.

Mungkin “penelitian” saya tersebut tidak valid ditinjau dari segi ilmiah karena tidak memenuhi ketentuan yang disyaratkan pelaksanaan penelitian ilmiah. Tapi saya punya keyakinan bahwa hasil investigasi tersebut tidak akan jauh beda jika dilakukan dengan metode yang lebih dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Coba lihat, banyak anak-anak yang tak kenal lagi dengan wayang kulit, jaran kepang, atau tiban seperti jaman saya masih kecil dulu. Memang secara eksklusif di beberapa daerah masih ada yang memegang erat budaya nenek moyang secara kuat seperti masyarakat Bali, Badui, dan beberapa yang lain. Tapi itu jumlahnya tidak banyak di negeri kita tercinta ini. Budaya kita saat ini ibarat warisan yang harus dijaga, malah kini terbengkalai.

Lalu bagaimana solusinya? Mematenkan produk budaya kita mungkin salah satu cara untuk memperoleh hak atas budaya kita secara hukum. Dan kita bersyukur bahwa batik telah di resmikan sebagai warisan budaya Indonesia untuk dunia oleh UNESCO. Namun mematenkan saja tanpa melestarikan tentunya sama sekali tidak bijak. Menurut pendapat saya (yang bukan seorang pakar atau pejabat) perlu dibuat gerakan untuk mencintai budaya warisan nenek moyang bagi generasi muda kita.

Kurikulum pembelajaran di sekolah sekarang ini lebih menekankan pada pelajaran-pelajaran sains, matematika, dan Bahasa Inggris. Saya berpikir itu yang ditekankan karena pelajaran itulah yang diikutkan dalam ujian nasional (UNAS). Bahasa Indonesia dimuat juga karena memang itu identitas kita, kebangetan kalau itu juga dihilangkan dari daftar pelajaran UNAS. Pelajaran yang menyentuh budaya oleh pemerintah sebenarnya juga sudah diakomodasi pada pelajaran Seni Budaya dan Muatan Lokal. Tapi sekolah enggan untuk memberi perhatian lebih terhadap pelajaran tersebut. Mengapa? Karena tidak di UNAS-kan dan sarana yang tidak menunjang. Guru yang memiliki keahlian mata pelajaran Seni Budaya dan muatan lokal seperti jamur di musim kemarau panjang alias jarang sekali.

Baiklah, mari berhenti mengeluh..! Kalau sekolah sebagai lembaga pendidikan formal mengalami kesulitan, kita bisa melalui pendidikan non formal lainnya. Apakah itu sanggar seni yang saat ini banyak saya temui di tempat tinggal saya, atau yang satu ini PRAMUKA. Pramuka terkenal sebagai lembaga pendidikan non formal yang siap mengawal budaya kita walau dengan fasilitas yang minim. Aspek budaya sebenarnya telah menjadi perhatian gerakan Pramuka sejak lama. Sehingga dalam Syarat Kecakapan Umum (yang mungkin saat ini perlu direvisi) ada poin-poin yang mengharuskan seorang anggota Pramuka menguasai seni budaya yang ada di Indonesia, paling tidak budaya setempat. Mari kita sekuat tenaga menjaga budaya kita melalui pembinaan di Gugus Depan. Saya yakin, kakak-kakak pembina di seluruh nusantara setuju dengan pendapat saya. Semoga sukses..!

One response to “WARISAN YANG TERBENGKALAI

  1. Salam budaya,,
    Sy andi.., mhssw pedhalangan ISI yogya. Sy bnarnya jg sependapat dngn kerisauan anda sbg pecinta budaya Indonesia.Namun spertinya sangat imposible jk kita langsung mmaksa kpd mrk mengenai apa yang mereka blum ktahui. ada beberapa hal yang saling berkaitan agar mereka dapat kenal dengan budaya kita. 1. diri pribadi, 2. keluarga, 3. pendidikan, 4. pemerintah. Ketika pemahaman dan niat dlam diri pribadi untuk kenal belum tertanam,,mustahil bagi kita untuk menggiring mereka agar mau mengerti dngn apa yang kita risaukan bersama. maka penanaman rasa pada diri pribadi generasi muda perlu ditanam melalui keluarga. karena keluarga adalah media pendidikan paling utama dan yang paling dekat dengan mereka. jika keluarganya saja tidak tahu dan tidak memberikan pengenalan pada mereka..mereka jg tdk akan terfikir untuk mengenal.., perlu juga pada setiap jenjang pendidikan memasukan kesenian sebagai kurikulum meski hanya sebatas muatan lokal sehingga mereka akan sedikit memperoleh pengenalan. pemerintah juga harus konsekwen dngan kehidupan seni tidak hanya gembar gembor pelestarian namun mereka tidak melakukan langkah awal misal pemberian wadah berkesenia. Jika ke empat unsur tersebut dapat sinkron maka apa yang kita resahkan dapt teratasi. maka anda yang aktiv dalam kegiatan kepramukaan dapat menjadi media untuk menyinkronkan keempat unsur tersebut, mari kita bersama-sama berjuang untuk kesenian dan kebudayaan sebagai salahsatu dharma bagi nusa dan bangsa

    Benar Mas Andi, memang pendidikan pertama dimulai dari keluarga. Di sekolah ataupun pendidikan non formal lain merupakan pendidikan kedua setelah di rumah. Dan kita juga memahami, waktu yang lebih banyak adalah di rumah. Jadi pembelajaran yang dilakukan di luar rumah tidak akan efektif jika di rumah mereka tidak mendapatkan pendidikan yang benar.

    XP2 Scout

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s