TUGAS PERKEMBANGAN UTAMA USIA 11 DAN 15 (Part 2)


Setelah sekian lama penerbitan di blog ini terhenti, untuk memulai kembali penerbitan penulis mencoba melanjutkan apa yang pernah dituliskan di blog ini dengan judul “Tugas Perkembangan Utama Usia 11 dan 15”. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama yang berkutat dengan remaja.

  • Mengembangkan Cara Pikir yang Baru

Pada waktu yang sama, transformasi intelektual berkembang sepanjang masa remaja. Cara berpikir baru tersebut memungkinkan pemahaman yang lebih menyeluruh dan terintegrasi terhadap permasalahan hidup. Operasi intelektual formal dalam generalisasi dan abstraksi berkembang semakin stabil. Sejalan dengan berkembangnya pengalaman dan praktek, remaja semakin mampu membuat pertimbangan logis berdasarkan penalaran sebab akibat. “Memungkinkan remaja untuk secara efektif memahami dan mengkoordinasikan ide abstrak, mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan, mencoba hipotesa, berpikir tentan masa depan, memikirkan pemikiran-pemikiran, serta membangun filosofi.” (Raising Teens: A Synthesis of Research and a Foundation of Action, A. Rae Simpson, PhD, Center for Health Communication, Harvard School of Public Health, Boston, 2001).

Anak berusia 7 tahun akan bermain dengan teman sebayanya tanpa berhenti untuk berpikir bahwa dia mungkin menyebabkan kebakaran. Anak pada usia ini belum memiliki kemampuan untuk menegkakkan hubungan sebab akibat dan oleh karenanya tidak memiliki kemampuan untuk melihat konsekuensi. Sebaliknya, remaja yang berusia 12 tahun, yang memiliki kemampuan memahami representasi simbolik mengantisipasi situasi yang belum terjadi dan dapat mengetahui jika rumah dapat terbakar jika terjadi keadaan-keadaan tertentu, meskipun mungkin belum ada bentuk api pada saat remaja memikirkan hubungan tersebut.

Jika sekelompok anak berusia 7-9 tahun bermain di jalan dan bola mereka melambung sampai di seberang persimpangan jalan, mereka akan berusaha untuk mengambilnya dengan cara, tanpa mempertimbangkan resikonya. Remaja berusia 11-13 tahun dalam kondisi yang sama, dengan kemampuan memperhitungkan waktu dan ruang, jarak dan kedalaman, akan mampu mempertimbangkan resiko yang terlibat dalam upaya mendapatkan bola yang hilang. Akan tetapi, keterampilan ini diperoleh secara bertahap, sehingga kita tidak seharusnya mengasumsikan bahwa remaja pada usia ini berada dalam keadaan mampu memperhitungkan segala resiko yang dihadapi.

Kemungkinannya, seorang anak usia 7 tahun yang bermain tenis hanya melakukan sesuatu tak lebih dari sekedar merespons tembakan bola yang dating dan berusaha mengembalikan bola melewati net. Mulai usia sekitar 11 tahun, anak akan mulai mengerti aturan-aturan resmi permainan dan berdasarkan aturan-aturan ini dan pengamatan gaya pemain lawan, dia akan merasakan pola permainan dan kesalahan dan mampu menghasilkan respons strategis. Anak tersebut telah belajar mengambil pendekatan abstrak, mengeneralisasikan, membuat hubungan sebab akibat dan karenanya menghasilkan jawaban-jawaban yang lebih sahih.

Contoh-contoh di atas membantu kita memahami bahwa hal serupa terjadi di ranah konsep dan nilai-nilai abstrak. Itulah sebabnya mengapa remaja sering muncul dengan “respons strategis” tak terduga, membuat orang tua dan guru terkaget-kaget. Tampaknya seperti pemain tenis kita pada contoh di atas yang mengejutkan kita dengan tembakan melewati net yang luar biasa di tengah-tengah pukulan santai.

  • Belajar Menghadapi Perubahan Emosi

Periode remaja juga ditandai dengan peningkatan keadaan emosi, yang berhubungan dengan perubahan hormonal dan intelektual. Masa ini juga merupakan masa kebingungan perasaan, ketika remaja ingin tumbuh dan mandiri, tetapi secara bersamaan masih menginginkan rasa aman dan kehangatan masa kanak-kanak.

Inisiatif berkembang pesat, disertai dengan periode apatis, kemalasan, dan keraguan. Saat-saat kegembiaraan tiba-tiba dapat berubah menjadi kesedihan atau bahkan air mata. Periode ketakutan dan keraguan yang timbul bersamaan dengan munculnya seksualitas pribadi dapat berkembang kearah kecemasan, sebelum berubah menjadi rasa ingin tahu dan penemuan bahwa proses yang serupa juga terjadi pada lawan jenis.

Remaja pada usia ini tidak membuat kemajuan linear menuju ke masa dewasa. Dorongan hati dan kebutuhan kekanak-kanakan tetap akan muncul dalam perjalanannya, khususnya dari orang dewasa di sekitar mereka, yang seringkali mencari jawaban cepat dan tidak mampu berperilaku secara konsisten dengan kaum muda. Satu saat kita mengatakan “kamu bukan lagi anak-anak”, dan menit berikutnya kita mengingatkan mereka “kamu belum dewasa”. Hal itu dapat dengan mudah menghasilkan kegelisahan dan mendorong mereka mencari solusi adaptasi dini terhadap tekanan alamiah dalam masa ini. Namun, kegelisahan berperan positif dengan mendorong belajar, meningkatkan kemampuan melakukan sesuatu dan menaikkan tingkat harapan.

Kebingungan dan pertentangan kita sendiri sebagai orang tua tercermin dalam pemikiran kita, dan remaja dapa merasakan secara lebih jelas sekarang ketimbang saat mereka masih kanak-kanak. Ini menambah factor baru pada ketidakpastian terhadap kegelisahan yang mereka alami dalam upaya mereka menerjemahkan dan berinteraksi dengan dunia dalam cara yang masuk akal. Oleh sebab itu, remaja cenderung meniru orang dewasa yang mereka anggap memiliki sistem nilai yang jelas.

Sumber: Buku Pegangan untuk Pembina Penggalang, Kwarnas Gerakan Pramuka 2005

Baca juga:

One response to “TUGAS PERKEMBANGAN UTAMA USIA 11 DAN 15 (Part 2)

  1. pelihara hutan indonesia,, dengan kasih dan sayang agar bisa di nikmati generasi muda mendatang.

    Setuju sekali, karena hutan adalah hidup kita Bangsa Indonesia. Terimakasih atas kunjungannya.

    XP2 Scout

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s